Tantangan 15 Hari Menulis Blog - Hari 5: Buku Favorit Paling Memorable
After all this time? Always…
teng tereng teng teng teeeng…. teng tereng teng teng teeeng….
Kira-kira, ada yang baca kalimat di atas dengan nada yang sama dengan saya tidak ya? Hehehe…. Kalau bisa, pasti sudah bisa menebak, buku favorit saya sepanjang masa yang memorable bangeeeet, nget, nget. Yup, Series of Harry Potter, the boy who lived!
Tema hari kelima ini, bikin saya senyum-senyum sendiri, di dalam bis saat perjalanan berangkat kuliah. Ya ﷲ … jaman dulu seneng banget, sampai dibaca berulang kali tiap bukunya. Sebagian besar anak 90-an sepertinya bisa dipastikan adalah penggemar Harry. Yes, the boy who lived, Harry Potter tidak cuma terkenal di dunia sihir dan bukunya saja, bahkan seluruh muggle di dunia juga mengenalnya.
Melalui tulisan ini, dengan kata kunci memorable, saya coba mengingat kembali ketujuh seri cerita petualangan Harry Potter dan sahabat-sahabatnya, Ronald Weasley dan Hermione (baca: er-my-knee) Granger. Sambil bernostalgia dengan perasaan saat dulu membacanya.
Seri 1 : Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (Harry Potter dan Batu Bertuah)
Di versi Inggrisnya berjudul Harry Potter and The Philosopher's Stone. Saya mencoba mengingat, bagaimana dulu seorang anak SMP seperti saya (yang kurang gaul) bisa kepincut dengan seri pertama J.K. Rowling untuk kisah Harry Potter (HP). Kalau saya tidak salah ingat, dulu teman sekelas yang mengenalkan HP ke saya, ada yang membawanya ke kelas dan setelah melihat bukunya saya pun menjadi tertarik untuk membacanya.
Sampul depan buku ini yang versi Indonesia memperlihatkan seorang anak laki-laki berkacamata dengan bekas luka di dahi berbentuk sambaran kilat, menaiki sebuah sapu terbang dengan tangan ke atas berusaha menggapai bola emas kecil bersayap.
Membaca kisah Harry saat duduk di bangku smp membuat saya cukup relate dengan kejadian dan situasi yang digambarkan oleh Rowling dalam bukunya. Harry adalah anak dari James dan Lily Potter. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah tragedi pembunuhan terencana oleh penyihir hitam terbesar sepanjang masa, Lord Voldemort. Harry yang yatim piatu kemudian dititipkan kepada Paman dan Bibinya (keluarga Dursley) yang merupakan keluarga muggle oleh kepala sekolah Hogwarts, Albus Dumbledore. 11 tahun dibesarkan tanpa mengetahui sejarahnya, tiba-tiba Harry menerima surat dari sekolah sihir Hogwarts. (Ah, betapa dulu saya berimajinasi mendapatkan surat serupa😌).
Harry pergi ke Hogwarts (dengan penuh drama sebelum keberangkatannya), menaiki kereta api dari Peron 9 3/4 di Kings Cross dan bertemu dengan sahabatnya Ronald Weasley untuk pertama kalinya. Kedua karakter ini begitu bertolak belakang dalam hal nasib. Ron adalah anak keenam dari 7 bersaudara (Billy, Charlie, Percy, Fred, George, Ron, dan Ginny). Merasa ‘klik’dari awal perjumpaan mereka, keduanya sering kali membuat ‘kenakalan’ di sekolah bersama-sama sepanjang cerita di seri pertama ini.
Satu lagi karakter dari Trio penyihir cilik ini adalah Hermione Granger, seorang gadis muggle anak dari pasangan dokter gigi, yang berambisi membuktikan dirinya benar-benar layak menerima undangan bersekolah di Hogwarts. Dan memang terbukti, Hermione adalah juara kelas sampai tahun keenam sekolahnya (di seri 7 mereka bertiga sepakat putus sekolah karena hal itu tidak lagi menjadi fokus utama hidup mereka).
Buku pertama ini mengisahkan pertemanan mereka bertiga dan awal mula dari petualangan selanjutnya. Di akhir buku, Harry berhadapan langsung dengan Voldemort yang saat itu belum mewujud secara sempurna karena efek mantra berbalik yang membunuh kedua orang tua Harry. Harry berhasil mengalahkan esensi Voldemort dan menundanya mewujud setelah berhasil menggagalkan Prof. Quirell mendapatkan batu bertuah.
Seri 2 : Harry Potter and the Chamber of Secret (Harry Potter dan Kamar Rahasia)
Seri kedua menghadirkan sisi yang lebih kelam dari Hogwarts. Di seri ini Rowling memperkenalkan sosok house-elf Dobby (yang membuat Harry dan Ron harus berangkat ke sekolah menggunakan mobil terbang) kepada pembaca, Ginny Weasley, dan Tom Marvolo Riddle yang saat dewasa menjadi Lord Voldemort.
Di buku ini terlihat kesetiakawanan Harry terhadap keluarga Weasley, pantas ya langsung ACC waktu Harry bilang kalau dia suka sama Ginny, hahaha… Harry bersama Ron dan Professor Lokhart (seorang penyihir narsis dan penipu yang suka mengumbar kesuksesan orang lain sebagai kesuksesannya), memasuki Kamar Rahasia di Hogwarts warisan dari Salazar Slytherin (oia, di Hogwarts ada 4 asrama bagi muridnya; Griffindor asrama Harry dan 2 sahabatnya, Ravenclaw, Hufflepuff, dan Slytherin asrama Lord Voldemort dan semua penyihir hitam jahat dan keji😂 termasuk Draco Malfoy si ganteng musuh bebuyutan Harry dari seri awal).
Di akhir cerita, Harry berhasil menyelamatkan Ginny seorang diri, melawan ular raksasa Basilisk dibantu burung Phoenix Dumbledore.
Seri 3 : Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (Harry Potter dan Tawanan Azkaban)
(saya baru ‘ngeh’ translasinya menjadi tawanan ya?)
Buku ketiga, memperkenalkan para sahabat dari James Potter, ayah Harry. Jika Harry, Ron, Hermione, dan Neville (meskipun tidak terlalu dekat) bersahabat, maka ‘geng’ dari ayah Harry juga memiliki kesamaan (James Potter, Sirius Black, Remus Lupin, Peter Pettigrew). Karakter yang kuat diperkenalkan adalah Sirius Black, sahabat dekat ayah Harry dan merupakan Bapak Baptis atau Godfather Harry sendiri. Harry di buku ini mengenal makhluk sihir lain yang bernama Dementor. Memang hampir di setiap bukunya J.K. Rowling mengenalkan hal-hal imajinatif yang di luar pikiran. Seperti sosok Dobby di buku kedua, diibaratkan suatu keinginan adanya budak yang bisa diandalkan melakukan segala hal, Dementor di buku ini diibaratkan sebagai bentuk trauma atau ketakutan seseorang.
Di buku ini dikisahkan juga konsep time traveler dengan pembalik waktu. Jika ada di dunia nyata, pasti laris manis diperebutkan orang ya. Hermione sebagai time keeper dalam cerita di buku ketiga ini membantu Harry menyelamatkan Buckbeak (Hippogriff milik Hagrid), Sirius Black sendiri, dan tanpa disengaja Peter Pettigrew yang pada akhirnya berperan dalam mengembalikan sosok berwujud Voldemort.
Seri 4 : Harry Potter and the Goblet of Fire (Harry Potter dan Piala Api)
Buku keempat, mengisahkan sebuah kompetisi sihir Triwizard. Di buku ini Harry dan teman-temannya memasuki usia pubertas. Mulai muncul romansa-romansa, sifat-sifat cemburu, dan kebingungan lain versi remaja. Turnamen Triwizard membuka perspektif yang lebih luas terhadap dunia sihir. Bahwa ternyata terdapat sekolah-sekolah sihir selain Hogwarts dan tujuan dari kompetisi ini adalah sebuah kegiatan yang bersifat diplomatis. Terdapat lebih banyak sekolah daripada yang diceritakan di buku ini, namun 2 yang dikenalkan adalah Durmstrang dan Beauxbatons.
Sebelum Triwizard, Rowling juga memperkenalkan Liga Piala Dunia Quidditch, yang Harry dan teman-temannya tonton saat mereka menghabiskan libur musim panas di The Burrows, rumah keluarga Weasley. Pada turnamen Triwizardnya sendiri, yang seharusnya terdapat 3 perwakilan dari ketiga sekolah sihir untuk bertanding, Harry menjadi kandidat yang keempat. Harry terpaksa mengikuti turnamen ini karena dijebak oleh Mad-eye Moody gadungan yang ternyata adalah kaki tangan Voldemort (Barty Junior). Di buku ini juga dijelaskan bahayanya fatherless child, anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.
Pada akhir buku, Harry berhadapan langsung dengan Voldemort yang berwujud. Mendebarkan dan selalu, dibuat penasaran dengan bersambungnya cerita.





Komentar
Posting Komentar