Ibuk Sekolah Lagi...

 Akibat Kurang Update...

Kali ini, Ibuk mau cerita tentang pengalaman mencari sekolah S2. Awalnya saya merasa sedikit jenuh dengan pekerjaan di kantor yang sudah dijalani 5 tahun lebih. Kemudian, saya juga melihat kompetensi saya di pekerjaan masih kurang dan harus dikembangkan terutama dalam menyikapi permasalahan yang ditemui. Saya terbiasa menjalani pekerjaan dengan target 'yang penting selesai sesuai dengan maksud dari pimpinan'. Nah, mindset saya ini rasanya kurang pas dengan prinsip hidup saya. Saya merasa jadi seperti robot yang tersistem, tidak inovatif dalam mengeluarkan gagasan pribadi, dan tidak kreatif mencari penyelesaian yang lebih konstruktif. Mungkin karena saya orangnya kurang update dan pemalas mencari tahu hal-hal yang di luar scoop kaidah normal dan sistem yang ada.

Akhirnya saya memutuskan untuk sekolah lagi, supaya bisa mengubah mindset saya dalam menyikapi permasalahan di pekerjaan, dan permasalahan lain di hidup. Maret 2021, saya memberanikan diri (setengah nekat) mendaftar ujian SIMAK UI. Kenapa kok di UI, padahal alumni ITB. Ga cinta almamater? ITB tentu saja jadi tempat pertama saya mengenal dunia arsitektur dan menemani saya bertumbuh memasuki usia dewasa. Alasan saya memilih UI lebih karena alasan lebih praktis, berada di satu area dengan tempat tinggal, sehingga saya tidak perlu memikirkan biaya di luar dana pendidikan dan transportasi. Dan paling penting, saya tidak perlu jauh dari anak. Selain itu, testimoni dari suami yang juga menamatkan S2 di UI, jenjang magister memerlukan publikasi ilmiah dan menurutnya UI memiliki fasilitas dan predikat yang lebih di bidang publikasi ilmiah dibandingkan kampus lainnya.

Pengumuman kelulusan pada SIMAK UI merupakan sebuah kebahagian di tengah musibah pandemic. Saya dan suami sudah menyiapkan dana pribadi untuk sekolah ini, namun ternyata berdasarkan informasi dari kantor, bahwa mulai tahun 2021 karyawan tidak lagi diperkenankan cuti sekolah dengan dana pribadi, semuanya harus melalui SK Tugas Belajar dan memperoleh rekomendasi serta pendanaan lewat beasiswa. Akibat kurang update terhadap peraturan pengembangan SDM di kantor, saya hampir saja pupus harapan sekolah lagi. Hampir saja mengikhlaskan uang pendaftaran SIMAK UI (waktu itu biaya daftar Rp 1.200.000,-).

Berburu Beasiswa LPDP...

Dari kepegawaian kantor memberikan saran supaya saya berusaha mendapatkan beasiswa LPDP. Karena hanya beasiswa LPDP yang bisa memfasilitasi untuk kuliah di UI. Akhirnya saya menghubungi pihak UI untuk melakukan tunda registrasi 1 tahun, dan mempersiapkan diri untuk berburu beasiswa LPDP.

Tapi itu pun tidak berjalan mulus. Saat itu ada tantangan dari SDM kantor saya. Beasiswa LPDP hanya dibuka 2x dalam 1 tahun, dan karena kantor saya sedang ada program unggulan Magister Super Spesialis, setiap ASN yang berminat sekolah di dalam negeri diarahkan untuk mendaftar program tersebut, yang mana semua jurusannya adalah Sipil. Gelombang 1/2021 pendaftaran LPDP tidak bisa saya ikuti meskipun sudah berusaha mengumpulkan sebagian besar berkas administrasi. Saat itu ibu saya masih ada, dan saya meminta didoakan supaya bisa melanjutkan sekolah di UI. Alhamdulillah, dengan perkenan Alloh dan juga doa dari orang tua serta keluarga, saya bisa mendaftar pada gelombang 2/2021 seleksi beasiswa LPDP dengan rekomendasi dari kantor. Seluruh prosesnya saya persiapkan dengan baik, saya konsultasi dengan teman-teman yang sudah lolos mendapat beasiswa LPDP, saya belajar materi untuk ujian (TPA), belajar toefl, dan tentunya berdoa kepada Alloh setiap sholat.

Cobaan terberat saat melalui proses seleksi beasiswa LPDP ini adalah saat ibu saya jatuh sakit akibat tumor ganas pada usus besarnya. Ibu saya telah melewati operasi di bulan November 2020, dan sudah melewati pemulihan di tahun berikutnya. Namun berdasarkan hasil scan terakhir sekitar bulan Agustus 2021, ternyata tumor yang sudah diangkat, kembali muncul dan operasi penyambungan usus sepertinya belum berfungsi optimal. Sebulan setelahnya Ibu saya dipanggil Alloh tepatnya pada 30 September 2021, 10 hari sebelum tes akhir wawancara seleksi beasiswa LPDP. Sungguh, Alloh yang memiliki rencana. Sebagaimana anak yang ditinggalkan seorang ibu dalam hidupnya, hati saya pun belum pulih betul terhadap kehilangan. Namun saya tau, ibu saya sangat berharap saya bisa meneruskan sekolah. Jika diingat kembali, mungkin wawancara LPDP kemarin menjadi terlalu dramatis karena saya tidak bisa mengendalikan air mata saat menceritakan motivasi saya dalam hidup. Bersyukurlah, sepertinya pewawancara bisa menilai bahwa rencana saya bersekolah sudah matang dan meskipun dihadapkan dengan tantangan dan kesedihan, tidak menyurutkan niat saya dalam mencari ilmu. Pengumuman kelulusan merupakan hiburan yang diberikan Alloh bagi saya, namun juga sebuah momen menyedihkan karena saya tidak bisa memberikan kabar kepada ibu saya bahwa saya lulus beasiswa.


Petualangan baru Ibuk...

Terlepas dari suka duka perjalanan saya untuk sekolah lagi, saya yakin Alloh telah merencanakan semuanya sesuai skenario. Sedih, tentu saja, tapi semua pada akhirnya akan kembali ke Alloh. Sekarang, yang bisa saya lakukan adalah berusaha sebaik mungkin dalam bab baru kehidupan saya. Petualangan baru, mencari ilmu yang bisa bermanfaat dan menjadi kontribusi kepada yang lain. Quote dari almarhum bapak saya, "Hidup itu harus Rahmatan lil 'alamiin, sebanyak-banyaknya bermanfaat bagi sesama", bagi seluruh makhluk, bagi alam semesta. Semoga tetap istiqomah dan mantap hati dalam menjalani petualangan baru ini. Lillahi ta'ala.. untuk harapan ibu dan bapak.

Buku Teori di Studio Perumahan dan Permukiman Perkotaan 1

Nah, sebagai salah satu bentuk manfaat dari ilmu yang saya pelajari di kampus, saya akan mengunggah beberapa tulisan yang merupakan tugas saya selama kuliah. Tulisan ini merupakan karya pribadi saya, melalui sintesis teori dari beberapa buku yang dipelajari di kampus, dan refleksinya dalam kondisi yang dihadapi di Indonesia menurut pandangan pribadi saya berdasarkan hasil diskusi bersama di kelas. Topik umumnya seputar ilmu Arsitektur dan Perumahan. Ada beberapa kutipan yang saya gunakan dalam tulisan ini, silakan dikoreksi jika ada kekeliruan yang saya sampaikan melalui tulisan tersebut. 

Semoga apa yang saya bagikan bisa bermanfaat!

Ibuk Desti Ayu

Komentar

Postingan Populer