Memilih Daycare Alih-Alih ART

Flashback: Pandemi dan dampaknya pada keluarga kami...

2020, anak saya akan berulang tahun yang kedua di bulan Maret tahun itu. Sejak usianya 5 bulan, anak saya sudah menjadi anak 'kantoran', karena setiap hari selalu ikut ibunya kerja di kantor. Saya beruntung sebagai Ibu yang berkantor dengan fasilitas Tempat Penitipan Anak (TPA), didirikan untuk memfasilitasi ibu-ibu pekerja yang tidak memiliki opsi penjagaan anak lainnya, baik nanny ataupun kakek nenek yang dapat diandalkan untuk menjaga anaknya selama ditinggal bekerja.

Saat virus COVID-19 mulai masuk di Indonesia pada bulan Februari 2020, untuk mengantisipasi penularan pada anak-anak, TPA di kantor terpaksa ditutup. Karena saat itu angka penularan cukup tinggi, dan pihak kantor merasa terlalu berisiko jika tetap memaksakan TPA beroperasi. Keputusan yang mendadak ini membuat saya cukup kelimpungan mencari jalan keluar terhadap opsi pengasuhan anak selama saya harus masuk kantor. Saya salut kepada ibu-ibu di luar sana yang bisa memutuskan untuk resign dan menjaga anak 24 jam di rumah. Jujur saya pun sempat berpikir demikian, namun dengan kondisi saat itu, sepertinya tidak mungkin untuk mengambil keputusan tersebut.

Pro Kontra ART dan Daycare versi Ibuk

ART, pro dan kontra...

Pilihan termudah sebagai solusi pengasuhan anak bagi saya saat ditinggal kerja adalah mencari ART yang dapat tinggal di rumah untuk mengurangi risiko terpapar virus dari luar. Bersyukur kami tinggal di rusunawa pegawai PUPR di Rempoa, dimana terdapat perkumpulan ibu-ibu rusun yang saling support terutama dalam hal informasi terkait ART. Setelah melakukan berbagai persiapan dan mitigasi, seperti memasang cctv dalam rumah, menyediakan segala kebutuhan dan hiburan anak di rumah, dan melakukan seleksi terhadap calon ART, akhirnya kami memutuskan mempekerjakan seorang ibu paruh baya yang memang sudah terbiasa dan berpengalaman mengasuh anak batita.

Bude (50), panggilan ART tersebut, merupakan sosok yang sangat sabar dan telaten. Anak saya terbantu lulus toilet training juga karena peran Bude. Beliau mendukung apa keputusan saya dalam mengajari anak untuk belajar pipis di toilet, seperti menggunakan celana training pipis (Klodiz dan Ecobum), mengajak anak ke toilet setiap 2 jam sekali, dan memberikan afirmasi kepada anak agar dia bisa mengkomunikasikan keinginan untuk buang air kecil di toilet. 

merk Ecobum (kiri) harus pakai insert (kanan); merk Klodiz (tengah) seperti celana dalam, lebih praktis

Sayangnya, setelah bekerja selama 7 bulan, Bude tidak bisa melanjutkan kembali karena alasan kesehatan dan personal. Setelah itu kami beralih ke ART pulang pergi dari informasi yang disediakan oleh komunitas ibu-ibu rusun. Setelah pengalaman ART pertama yang menginap, kami merasa privasi keluarga kurang terjaga, sehingga kami mencoba mencari ART pulang pergi yang rumahnya berada di sekitar rusun kami tinggal. ART yang kedua ini sudah cukup berumur juga (40-50an), namun cara pengasuhannya terlalu pasif. Kali ini saya kurang cocok dengan ART tersebut. Saya perhatikan dari cctv, anak saya hanya bermain dalam diam dan tidak ada dialog yang terjadi seperti dengan Bude yang sebelumnya. 

Kami memutuskan untuk mencari ART lain. Selain alasan kurang cocok, mempertimbangkan tumbuh kembang anak, saya dan suami berpikir untuk memberikan aktivitas 'belajar online' kepada anak kami di rumah melalui kelas PAUD online di @SekolahMuridMerdeka(SMM). Ini membuat saya berpikir untuk mencari ART yang lebih muda dan lebih familiar dengan penggunaan teknologi terutama dalam pengoperasian laptop. 

aktivitas di kelas PAUD SMM

Karena rata-rata ART di sekitar rusun sudah berumur, akhirnya kami putuskan mencari ART melalui iklan lowongan ART di akun instagram @maisyahakhwat. Akun ini saya peroleh dari informasi teman sesama ibu-ibu di kantor. Proses seleksi cukup mudah, saya beriklan dengan persyaratan yang saya butuhkan dan penawaran gaji serta fasilitas yang saya sediakan. Saat itu di akhir bulan Desember 2020, gaji yang saya tawarkan adalah Rp 1.200.000,-/bulan dan kenaikan setelah 6 bulan bekerja. Ada beberapa kandidat yang kontak langsung dengan saya, setelah ikhtiar melalui interview, akhirnya kami mendapatkan ganti ART berusia 20 tahun dengan pengalaman tambahan pernah menjadi guru mengaji anak.

contoh iklan di ig @maisyahakwat
Anak saya cocok sekali dengan ART ini, saya pun juga senang. Mbak L(20) ART kami sangat rajin, apik, dan telaten. Sayangnya, bekerja di rumah saya merupakan waktu singgah baginya. Memang saat interview dan obrolan selama dia bekerja di rumah, sudah disampaikan bahwa niatan dia adalah menjadi seorang pengajar atau guru. Tapi saya tidak menyangka 9 bulan kemudian, dia sudah mendapat tawaran bekerja di sebuah sekolah dasar sebagai asisten guru. Kami ikut senang, karena cita-cita mbak L mendapatkan jalan untuk terwujud. Namun tentunya hal ini menimbulkan PR baru bagi saya. Saya kembali beriklan di @maisyahakwat, kali ini gaji yang kami tawarkan naik menjadi Rp 1.500.000,-/bulan. Hampir seminggu tidak ada respon terhadap iklan kami, akhirnya kami naikan penawaran gaji menjadi Rp 1.800.000,-/bulan, karena pertimbangan ongkos transportasi pulang pergi ART. Alhamdulillah tidak lama setelah itu, saya kembali beruntung mendapat kandidat lain yang juga sama telatennya seperti mbak L. Terlebih lagi ternyata kandidat baru ini merupakan ex-pengasuh anak teman kerja saya di kantor yang reviewnya cukup terpercaya.

Lalu masalah lain muncul, kali ini datang dari internal keluarga kami. Usia anak kami sudah mendekati usia jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak, atau TK. Secara pribadi saya menilai perkembangan anak saya cukup baik dan dari penilaian guru PAUD di SMM, anak masih berkembang sesuai harapan. Namun, saya berpikir jika lanjut TK melalui online, akan sulit adaptasi jika harus masuk SD nanti dengan rutinitas sesuai jadwal dari sekolah. Kelas online bagi saya seorang ibu pekerja, dengan keterbatasan waktu pendampingan anak belajar mandiri di rumah, sulit dijalani jika terus mengandalkan ART di rumah. Terlebih, saya melihat anak saya kurang interaksi dengan anak sebayanya, selain itu adanya ART membuat anak saya lebih 'manja' dan kurang mandiri.

Daycare, pro dan kontra...

Berawal dari kegalauan ibu pekerja yang anaknya sudah memasuki usia TK, kemudian melihat kurangnya interaksi sosial anak dengan anak seumurannya karena masih anak tunggal (Ibuk belum kebayang kalau mau nambah anak lagi, satu aja amanahnya berat ya, Bu!). Akhirnya saya mencari tau informasi TK di sekitaran rusun Rempoa. Pencarian ini justru mempertemukan saya secara tidak langsung dengan Daycare Rumah Anakku Bintaro (RA). Memang kata-kata "Rejeki Anak, Alloh yang atur.." itu benar adanya bagi saya. Ternyata Daycare RA ini sudah jadi favorite ibu-ibu di sekitaran Bintaro. Daycare ini memiliki kegiatan yang padat untuk stimulasi tumbuh kembang anak, selain bonus plus-plusnya ada taman luas dan kolam renang pribadi (cek instagramnya di @rumah_anakku untuk tau lebih banyak, Bu!). Satu lagi yang terpenting, RA juga memiliki TK yang sudah diakui sebagai lembaga pendidikan anak usia dini dan berbasis agama Islam, sesuai dengan apa yang saya cari. Dapat TK bonus Daycare, alhamdulillah.

RA dengan kolam dan taman besarnya untuk mendukung aktivitas anak

Jika ditanya khawatir ga ninggal anak di daycare di saat pandemi? Sudah pasti iya. Tapi pengalaman mempekerjakan ART, keluarga saya masih tetap berisiko tertular virus Covid-19 (kami kena 2x sebelum akhirnya memilih daycare). Daycare RA memberikan keyakinan kepada kami tentang keamanan dan perlindungan kesehatan anak-anak di sana, mulai dari SWAB rutin 2 minggu sekali, penyemprotan disinfectant rutin sebulan sekali, peraturan tentang anak dengan suhu demam di atas 37,6C dilarang masuk daycare, dan memastikan menu-menu makanan bergizi bagi anak-anak. Selain itu, setelah pengalaman terkena Covid-19 sebelumnya, mindset kami berubah, berhati-hati saja tidak cukup, jika memang sudah takdirnya kena, ya sudah waktunya kena. Tapi ada sisi positif setelah berhasil melalui 2x infeksi Covid, sepertinya imun keluarga kami lebih baik untuk selanjutnya. Aamiin.
Lalu, gimana nasib pekerjaan rumah kalau tidak ada ART? Alhamdulillah, saya memang sudah biasa beberes rumah sebelum pakai ART. Kuncinya jangan terlalu tinggi ekspektasi terhadap rumah bersih dan rapi saat masih memiliki balita. Mungkin pekerjaan beberes rumah yang paling membuat saya malas adalah setrika baju. Tapi karena mbak ART yang terakhir ini kerjanya apik, dan begitu anak saya dapat slot di Daycare RA (iya Bu, waitinglist dulu mau masuk RA, makanya rejeki anak itu sudah diatur...percayalah!) si mbak langsung saya kenalin ke teman di rusun yang juga sedang butuh ART dengan perjanjian kerja hari Senin-Jumat menjadi ART di teman saya, Sabtu membantu saya beres-beres rumah dan setrikaan seminggu yang menggunung. Alhamdulillah, dimudahkan semua jalannya jika ikhtiar kita maksimal.
Jadi, Ibuk mau cerita, kalau disuruh milih Daycare alih-alih ART, kenapa ga dua-duanya? Prioritaskan anak dan kesehatan mental ibu, tapi atur sesuai kemampuan dan atur sesuai kemauan ibu. Ingat ya Bu, kita sebagai manager di rumah, kita yang mengatur, tapi tetep konsultasi sama bos besar (baca: suami) sebelum memutuskan. Semoga bermanfaat sharing dari saya, apapun keputusan yang ibu ambil, yakinlah ibu sudah berusaha sebaik mungkin jadi ibu terbaik bagi anak. Jangan merasa tertekan karena tidak bisa mengasuh anak sendiri, tutup telinga dari sindiran dan omongan pedas. Fokus pada keluarga Ibu, dan ajak suami untuk kompak supaya Ibu tidak merasa sendiri. 

Sending love to every moms here, you're the best mom for your kid!
Ibuk Desti Ayu

Komentar

Postingan Populer