Screentime: Rekomendasi Channel Youtube Anak Versi Ibuk
Screentime, jalan pintas buat ibu bisa nyambi masak...
Sebagai ibu dari anak yang termasuk dalam generasi alpha, dikatakan sebagai generasi paling canggih dan melek soal teknologi, saya merasakan betul efek dari pemberian stimulasi melalui interaksi dengan teknologi kepada tumbuh kembang anak. Mungkin jangan ditiru ya untuk ibu-ibu lain, tapi anak saya sejak usia 4 bulan sudah mulai kenal dengan TV, karena saat itu harus saya titipkan di rumah mertua dan dijaga oleh ART yang masih tergolong ABG, jadi hiburan mertua dan ART menonton TV sepertinya secara tidak langsung terpapar ke anak saya. Namun hal ini hanya berlangsung kurang dari 2 bulan, karena setelah mendapatkan slot di Tempat Penitipan Anak di kantor, akhirnya kami tidak lagi perlu menitipkan anak kepada mertua.
Saya mulai secara aktif mengenalkan screentime untuk anak di sekitar usia 7-8 bulan, saat itu anak saya sudah bisa mengoceh sedikit dan mulai belajar berjalan. Sebagai ibu pekerja sekaligus IRT tanpa ART saat itu, screentime seakan jadi pelarian bagi saya untuk memberikan waktu jeda memegang anak saat kami sedang berdua saja di rumah dan harus menyiapkan makanan untuk keluarga. Screentime bagi anak, saya batasi hanya TV dan diperbolehkan sekitar 1 jam maksimal saat dia berusia di bawah 2 tahun, karena memang waktunya cuma sebentar setelah pulang dari kantor 18.00 WIB dan menuju tidur di pukul 20.00 WIB.
Nah, saat itu saya masih belum paham betul tentang pilihan tontonan bagi anak bayi (belum 1 tahun), tapi saya dan suami sepakat memberikan tontonan khusus anak yang kami unduh dari youtube, di antaranya seperti Cocomelon, Nussa, dan Super Simple. Belakangan saya baru mendapatkan informasi (sumbernya lupa dicatat, maaf ya), ternyata tontonan tersebut kurang baik bagi anak di bawah 2 tahun karena perpindahan scene terlalu cepat dan warna yang digunakan terlalu banyak juga terlalu cerah. Saat itu kami sudah merasa cukup selektif memilihkan channel dan tema tontonan bagi anak, meskipun jika menuruti IDAI sebaiknya anak dikenalkan gawai pada usia lebih dari 18 bulan ya, buibu. Disini saya disclaimer bahwa gawai yang saya berikan sebatas TV saja dan menontonnya berjarak >2 m, supaya paparan radiasinya tidak terlalu banyak ke anak. Kemudian kami memilih mengunduh film atau video dari youtube untuk mengurangi tontonan tidak penting seperti iklan (Ibu-ibu tau ya iklannya di Indonesia seperti apa, sering kali lagunya terlalu keras dan gaya para model iklannya kadang tidak sesuai untuk anak-anak). Saat itu kami belum berlangganan internet di rumah, jadi semua tontonan kami unduh dari kantor (oops, jangan ditiru lagi-lagi ya, Bu, hehehe), sementara TV berfungsi sebagai LCD saja, jarang sekali kami menonton TV lokal selain berita, dan itupun dilakukan saat anak sudah tidur tentunya.
Memanfaatkan Screentime, pilih tontonan yang tepat...
Saya merasakan betul perkembangan anak saya dengan tontonan TV yang saya berikan. Di usianya 1 tahun, anak saya sudah bisa mengetahui kosa kata dalam bahasa Inggris, seperti warna blue, red, yellow, dan juga mengenal bentuk geometri dasar. Sampai saat ini pun, anak saya bisa 2 bahasa (Inggris dan Indonesia) salah satunya karena menonton channel youtube berbahasa Inggris. Tapi tentunya selain dengan tontonan TV, saya juga memberikan stimulasi lain melalui permainan, dialog sehari-hari, dan membaca buku. Screentime 1 jam sehari saja, dimanfaatkan untuk 'nyambi' masak makan malam. Sekarang, di usianya hampir 5 tahun, aturan waktu screentime sedikit lebih longgar, mungkin di total anak saya bisa 3 jam sehari menonton TV. Tapi disclaimer kami, tontonan yang kami berikan adalah yang memang ingin kami ajarkan nilai-nilainya kepada anak. Berikut adalah beberapa channel youtube kesayangan keluarga kami yang saya rekomendasikan untuk ditonton bersama keluarga, saya ijin capture dari google image search untuk gambarnya.
1. BLIPPI
2. RIVER AND WILDER SHOW
Channel ini menceritakan petualangan seru 3 bersaudara; River, Wilder, dan Archer di alam bebas. Seru banget kayanya punya anak-anak penjelajah seperti mereka, tapi sepertinya anggarannya juga harus maksimal kalau mau mengikuti petualangan mereka, seperti pergi ke pantai, gunung, kemah, dan petualangan alam lainnya. Channel ini menurut kami seru untuk anak-anak, diceritakan dengan narasi dari ketiga bocah, menjadikannya lucu didengar, karena masing-masing anak memiliki POV sendiri dalam menceritakan petualangan mereka. Tontonan ini kami kenalkan pada anak untuk menginspirasi keberanian 3 bersaudara ini, juga menunjukkan bahwa menghadapi rintangan-rintangan di alam dianalogikan sebagai rintangan dalam hidup itu bisa dibikin seru lho, jika kamu punya alat yang tepat dan perlengkapan yang sesuai untuk menghadapinya. Kalau saya sih gemes lihat kelakuan 3 bocah ini, karena relate dengan keusilan anak laki-laki saya.
3. GENEVIEVE'S PLAYHOUSE
Ini merupakan channel yang sebagian besar isinya reviu tentang mainan anak. Tokoh utamanya anak perempuan kecil bernama Genevieve, dan narasinya dibacakan oleh ayahnya. Meskipun anak perempuan, tapi mainan yang direviu sangat beragam dan populer. Kalau anak saya, karena laki-laki, suka menonton reviu mainan Paw Patrol. Biasanya si ayah bernarasi seperti adegan yang sering ditemui di film asli dari mainan yang direviu. Jadi anak-anak seperti didongengi kalau menonton ini. Cukup seru dan jelas konsepnya. Tidak banyak yang wadidaw, ya Buibu, hehehe.
4. COILBOOK
Buat ibu-ibu yang punya anak laki-laki pasti sudah tidak asing sama channel satu ini, Coilbook. Channel ini terbagi jadi 2 segmen, 1 segmen pembelajaran dasar dengan karakter mainan kendaraan, dan 1 segmen berisi cerita tentang kendaraan ukuran asli yang menceritakan peran profesi seperti ambulans, truk pemadam, dan mobil polisi. Saran saya, jika anak masih berusia 3 tahun ke bawah, pilih yang versi mainan atau segmen yang mengenalkan pelajaran dasar seperti warna, angka 1-10, dan bentuk. Kalau yang segmen pengenalan peran dan profesi, anak yang lebih besar perlu didampingi untuk mengenalkan konsep penjahat (bad guy) dan polisi, berhati-hati dalam berkendara, dan lain sebagainya. Karena segmen yang peran profesi ini latarnya agak 'dark', seperti mengenalkan film action atau balapan ke anak-anak mungkin ya. Kalau saya selalu bilang ke anak, bahwa ini hanya cerita di TV, pura-pura. Kalau di kenyataan hampir tidak akan ditemui yang seperti itu, meskipun mungkin bisa terjadi. Tekankan kepada anak-anak tentang nilai yang bisa diambil, misalnya dilarang mencuri yang bukan miliknya, atau jika ada mobil mengebut di jalan akan membahayakan orang lain, dan lain sebagainya.
5. MINI MUSLIMS
Channel ini bagus buat mengenalkan anak dengan nilai-nilai islami melalui lagu-lagu berirama nursery rhymes. Kartunnya juga lucu, kalau anak sudah bosan nonton Nussa dan Riko the Series, bisa coba nonton Mini Muslims, sekalian mengajarkan bahasa Inggris ke anak. Lagunya easy listening, dan karakter yang ditampilkan di kartun ini juga mewakili berbagai ras manusia, jadi bisa juga untuk mengajarkan anak bahwa semua manusia di dunia ini satu ummat, tidak dibedakan dari mana asalnya dan apa warna kulitnya. Semua di mata Alloh sama, hanya iman dan ketaqwaan yang membuat derajat tiap muslim berbeda. Sepertinya perlu lebih banyak tontonan yang seperti ini ya buat anak-anak kita di jaman ini. Tontonan yang menanamkan rasa kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari, juga rasa solidaritas dan anti diskriminatif. Sehingga anak-anak tumbuh menjadi manusia yang berempati dan memiliki toleransi tinggi.
Nah, mungkin itu beberapa channel youtube yang Ibuk rekomendasikan, karena anak saya mendapat manfaat dari tontonan tersebut. Sebetulnya masih banyak yang lain, seperti sebelumnya saya sebutkan, Cocomelon, Nussa, Super Simple, ada juga Yufid Kids, Pinkfonk, Pidi, Little Baby Bus, dan banyak lainnya. Intinya dari screentime anak, sebisa mungkin orang tua mencarikan tontonan yang bermanfaat bagi anak, daripada anak-anak mencari pelarian nonton di rumah tetangga ya, kan.
Memanfaatkan screentime untuk memberikan jeda waktu bagi Ibu melakukan aktivitas lainnya, menurut saya tidaklah salah, asalkan anak tetap dipantau dan diberikan pilihan tontonan yang tepat serta sesuai dengan usia anak Ibu. Masing-masing orang tua lebih paham nilai kehidupan apa yang ingin dikenalkan pada anaknya, dan mengerti pola pembelajaran apa yang bisa anaknya serap untuk memaksimalkan stimulasi tumbuh kembangnya. Ingat gawai atau gadget hanya salah satu alat pembelajaran, ya Bu. Bijaksana dan terus dampingi anak dalam memanfaatkan teknologi. Jangan lupa, stimulasi anak melalui metode lainnya untuk meningkatkan juga bonding orang tua ke anak. Semoga bermanfaat!
Ibuk Desti Ayu









Komentar
Posting Komentar