Tantangan 15 Hari Menulis Blog - Hari 3: Isu Kenakalan Remaja

Remaja: Transisi yang Membingungkan


Definisi Nakal & Remaja

Tantangan menulis blog di hari ketiga ini bertema Isu Kenakalan Remaja. Kenakalan dari kata dasar ‘nakal’, yang adalah kata sifat di mana berarti (1) suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu, dan sebagainya, terutama bagi anak-anak) dan (2) buruk kelakuan (lacur dan sebagainya) dicontohkan dengan kelakuan orang dewasa seperti ‘suami yang nakal suka bermain perempuan’, menurut KBBI.

Yang menjadi pertanyaan di sini, masuk golongan mana isu kenakalan remaja? Definisi remaja menurut beberapa sumber adalah waktu manusia berusia 13-18 tahun, sumber lain menyebutkan 11-18 tahun, saat anak memasuki masa baligh atau pubertas. Meskipun demikian usia pubertas anak semakin maju, ada anak perempuan yang di usia 8-9 tahun sudah mengalami menstruasi, namun sifat dan perilakunya masih menunjukkan karakteristik anak kecil. Jadi, apa yang dapat menjelaskan secara jelas seorang manusia memasuki masa remaja? Mungkin di sinilah yang menjadi membingungkan, bagi si anak yang mengalaminya maupun orang tua atau orang di sekitar yang berinteraksi dengannya. 

Emosi atau Perasaan

Hal yang paling mudah diidentifikasi adalah perubahan emosi, yang dikatakan dipengaruhi oleh perubahan hormon. Emosi sendiri dalam jurnal kemendikbud yang ditulis oleh Rina Susanti (2004) memiliki definisi terkait perasaan yang berhubungan dengan fisiologis dan kognitif, memberikan kesadaran dalam berbuat, perasaan yang dipengaruhi oleh keadaan biologis dan psikologis seseorang (Goleman, 1997 dalam Susanti, 2004).


Hubungan dari perkembangan biologis dan psikologis ini dalam masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, sering kali membuat ketidakstabilan emosi pada remaja. Beberapa perasaan yang berkembang saat mereka berusia anak-anak, seperti perasaan takut, marah, cemburu, duka cita, keingintahuan, kegembiraan dan kasih sayang, akan bertumbuh menjadi lebih dominan satu sama lainnya, berkaitan dengan lingkungan dan situasi dia berada. Baik emosi atau perasaan negatif maupun positif yang muncul lebih dominan akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian seorang remaja. 
Jika ketakutan yang lebih dominan dirasakan, maka kepribadiannya akan menjadi lebih tertutup dan mudah patah semangat. Jika emosi marahnya yang lebih dominan, maka kepribadiannya menjadi cenderung kasar. Sebaliknya, jika kegembiraannya atau rasa bahagianya menjadi dominan, saat berada pada konteks situasi yang tidak benar, misalnya selalu merasa gembira karena dimanjakan oleh orang-orang di sekitar, maka kepribadiannya akan cenderung ke narsisme atau egois. Semua ini bergantung pada bagaimana peran lingkungan dan orang di sekitarnya, membantu menjelaskan emosi yang dirasakan anak dan bagaimana cara bersikap terhadap emosi yang dirasakan tersebut.

Regulasi Emosi

Pada akhirnya, semua emosi tersebut tetap dirasakan oleh semua remaja. Saat mampu mengelolanya, maka akan terbentuk keseimbangan emosi. Pengelolaan atau regulasi emosi, berkaitan dengan kecerdasan emosional, yang membuat remaja mampu merasakan, mampu memahami, dan mengatur perasaan saat menerima konflik dalam interaksi sosial.
Lalu, bagaimana cara melatih keterampilan emosional dan sosial?

Yang pertama, seorang anak yang akan memasuki usia remaja harus sudah bisa memahami perbedaan perilaku baik dan buruk. Sekali lagi, lingkungan dan orang di sekitar anak berperan penting dalam hal ini. Kedua, anak perlu dibiasakan melihat keadaan sekitar, sehingga dia mampu mengembangkan rasa kepedulian dan empati. Selanjutnya, yang sering kali dianggap remeh dan terlupakan oleh orang tua, adalah membiarkan anak berbuat salah dan merasakan reaksi emosi negatif seperti malu, takut, bersalah, saat melakukan tindakan yang tidak benar.

Orang tua, ibu dan bapak, perlu mengajarkan juga bagaimana cara menyalurkan emosi. Saat anak atau remaja memiliki kecenderungan bereaksi secara fisik, maka ajak mereka untuk beralih pada reaksi verbal. Selain itu, ajak mereka untuk bisa menyalurkan emosi ke benda mati, seperti memukul bantal saat kesal, atau menghentakan kaki.  Mereka juga bisa dilatih untuk berdiam mengatur nafas, sambil merenungi emosi yang mereka rasakan. Ajarkan pula untuk selalu melihat situasi melalui sudut pandang yang berbeda.



Terdapat dampak yang cukup berbahaya saat anak tidak mampu atau gagal dalam melakukan regulasi emosi. Inilah yang mengakibatkan adanya Kenakalan Remaja. Beberapa di antaranya bersifat personal pada diri mereka sendiri (seperti depresi, membangkang, menyakiti diri sendiri), namun yang lebih parah mampu merugikan orang lain atau lingkungan di sekitarnya (seperti perundungan, menyukai kekerasan, melakukan aksi anarkis atau vandalisme, tawuran, dan lain sebagianya). Beberapa berita yang muncul di media menyebutkan bahwa kasus perundungan anak di beberapa daerah kembali marak. Belum lagi adanya penganiayaan fisik yang membuat luka permanen pada korban. Hal-hal yang dipicu oleh permasalahan sepele atau sesuatu yang bagi kita orang dewasa terasa sangat aneh dan tidak wajar. Entah dari mana para remaja ini mencontoh, namun pastinya sebagai orang tua kita perlu membekali anak dengan moral yang baik.

Cegah Kenakalan Remaja

Sebagai orang tua, kita bisa mencegah kenakalan remaja. Caranya adalah mengajarkan bahwa emosi adalah sesuatu yang alami dirasakan. Berikan penjelasan bahwa setiap orang berbeda dan memiliki emosinya masing-masing. Namun semua di hadapan Tuhan adalah setara, sehingga harus saling menghormati dan berempati atau peduli. Mengajarkan keimanan kepada anak juga dapat menjadi benteng dan pengendali diri terhadap perbuatan yang salah. Anak yang merasa diawasi dan dinilai oleh Tuhan akan memiliki kontrol diri yang lebih baik. Selain itu, orang tua juga perlu menyediakan sarana bagi penyaluran emosi dan energi anak. Berikan kegiatan yang positif, berikan lingkungan bertumbuh yang positif, dan kenalkan pada komunitas yang bergerak di hal-hal yang positif.

Remaja adalah masa depan kita. Mari kita sama-sama jaga, agar akhlak mereka baik dan menjadi manusia yang bermanfaat nantinya. Semoga sharing ini bermanfaat!


Referensi:

https://jagokata.com/arti-kata/nakal.html

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Remaja

https://jurnalteknodik.kemdikbud.go.id/index.php/jurnalteknodik/article/view/389/244



Komentar

Postingan Populer